Porodisa Talaud

Panorama laut yang eksotik menjadi sambutan bagi siapa pun yang datang ke Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Kejenuhan menghabiskan waktu 17 jam naik kapal dari Bitung, Manado, seakan terhapus saat memandang bening dan birunya air laut Melonguane, ibu kota Kabupaten Kepulauan Talaud.

Dari atas perahu nelayan, meski kedalaman dasar pantai masih sekitar 10 meter, sudah begitu jelas terlihat terumbu karang dan kelebat ikan.
Pesona Pulau Sara yang terletak di seberang Melonguane tak kalah menggairahkan. Pulau ini memiliki pantai landai berpasir putih yang masih sangat bersih dan alami. Tak sedikit kawan dalam rombongan perjalanan yang menceburkan diri ke pantai, saking tak kuat menahan gemas melihat jernihnya air laut dan putihnya pantai. Semilir udara Talaud yang sangat bersih menyebabkan suhu udara tengah hari yang terik menjadi tak terasa.
   Keelokan laut dan pantai Talaud tampaknya memang layak dipromosikan menjadi unggulan wisata. Apalagi setelah wilayah tetangganya seperti Bunaken sudah banyak mengalami kerusakan terumbu karang. Sebutan "Porodisa" bagi wilayah ini, yang mungkin bisa menginspirasi menjadi sebuah paradise (surga), banyak dibenarkan oleh kecantikan alam Talaud. 

   Di pantai Melonguane, sepanjang malam puluhan anak muda berkelompok-kelompok menikmati semilir angin pantai sambil berkaraoke menyanyikan lagu-lagu tanah Sulawesi. Sebuah pemandangan menikmati hidup yang sangat inspiratif. Namun, sayang, di balik semua keunggulan daya tarik itu, ternyata Talaud masih berbelit problematik keterpencilan.
   Jauhnya jarak yang terentang oleh lautan menjadi salah satu mata rantai masalah keterpencilan bagi gugusan pulau di ujung laut Sulawesi ini. Diukur dengan garis lurus, jarak Manado-Melonguane (ibu kota kabupaten) mencapai sekitar 400 kilometer, atau kalau dihitung melalui jalur kapal laut mencapai 271 mil laut. Belum lagi ketika mengunjungi Pulau Miangas, jarak itu masih harus ditambah 129 mil laut sampai di perbatasan Indonesia-Filipina.
   Meski dari pengamatan, sepintas, keterpencilan tampak tak menyurutkan keceriaan masyarakat Talaud menikmati hari-hari mereka, namun gambaran kesederhanaan tetap terlihat dari kondisi rumah-rumah beratap seng dan dedaunan.
   Demikian pula, walaupun kondisi jalanan perkampungan relatif bersih dan tertata rapi, lalu lalang anak-anak kampung dan murid sekolah yang masih bertelanjang kaki menggambarkan kondisi kesejahteraan keluarga mereka.
   Memang berdasarkan data statistik wilayah ini, separuh dari 21.891 kepala keluarga (KK) masuk kategori miskin. Pengeluaran per kapita penduduk paling banyak hanya berada di kisaran Rp 100.000-Rp 300.000 per bulan. Padahal, hidup di kawasan ini lebih mahal daripada di daratan. Harga beras mencapai Rp 8.000 per kilogram dan bensin Rp 10.000 per liter.
   Meski untuk kebutuhan makan, menurut pengakuan mereka, tak ada warga yang sampai kelaparan, tentu sangat sulit mengembangkan kesejahteraan keluarga.
   Kenyataannya di beberapa pulau yang disinggahi, penduduk kebanyakan bermata pencarian petani merangkap nelayan. Alat melaut mereka pun rata-rata paling bagus hanya perahu bermotor tempel atau sekadar jukung. Tak tersedia sarana pengolahan ikan seperti cold storage, apalagi pelabuhan khusus perikanan.
   Data Badan Pusat Statistik tentang perolehan ikan hasil tangkapan nelayan tiga tahun terakhir menunjukkan, kenaikan jumlah tangkapan ikan berjalan sangat lambat.
   Sulitnya memasarkan hasil laut keluar wilayah, apalagi ekspor, merupakan salah satu faktor penghambat berkembangnya sektor perikanan wilayah ini. Malah di beberapa pulau paling terpencil, seperti Miangas, kebanyakan ikan yang diperoleh hanya dipakai tiap keluarga untuk keperluan makan sehari-hari.


SEKILAS TENTANG KABUPATEN KEPULAUAN TALAUD

      Kabupaten Kepulauan Talaud sebagai daerah otonom yang dimekarkan dari kabupaten Sangihe -Talaud berdasarkan Undang-Undang No. 8 ...