Akses Dan Sumber Daya

Geliat pembangunan infrastruktur dan sarana transportasi agaknya memang masih harus terus dipacu di wilayah ini. Meretas akses menjadi kata kunci pembangunan bumi Porodisa. Sayangnya, sejauh ini untuk masuk-keluar wilayah hanya dilakukan kapal-kapal perintis PT Pelabuhan Nasional Indonesia (Pelni) dengan rute Talaud-Sangihe-Manado. Itu pun dengan interval kunjungan yang terlalu lama. Di ibu kota Melonguane, misalnya, kapal hanya merapat dua-tiga hari sekali, sementara di Miangas hanya seminggu sekali. Bahkan, saat musim ombak kapal bisa tak merapat berminggu-minggu. Akibatnya, aktivitas perdagangan dengan kapal laut baru memadai untuk memasarkan hasil perkebunan utama seperti kopra,pala, cengkeh, dan vanili yang lebih tahan lama. Keberadaan bandara di Melonguane juga tampaknya baru sebatas simbol perintis. Kapasitas angkutnya hanya 40-60 orang seminggu sehingga selalu ada pembatalan keberangkatan bagi sejumlah penumpang yang hendak bepergian. Upaya memberdayakan daerah dengan menawarkan wisata keindahan laut serta acara adat seperti Mane’e (tradisi menangkap ikan) tampaknya juga akan berkejaran dengan kemampuan menyediakan listrik, air bersih, dan penginapan. Sejauh ini, sarana penunjang yang relatif lengkap baru ada di sekitar Melonguane, gugusan Pulau Karakelang. Padahal, aktivitas Mane’e berlokasi di gugusan pulau Nanusa yang jaraknya masih empat jam perjalanan laut. Di kawasan itu tak hanya sulit penginapan, listrik air bersih dan sarana komunikasi juga masih sangat terbatas. Persoalannya, membangun sarana infrastruktur amat mahal di wilayah ini. Sulitnya akses menyebabkan tingginya harga bahan bangunan. Bahkan, di atas kertas hanya pembangunan fisik di wilayah Papua yang mengalahkan mahalnya membangun bangunan fisik di Talaud.Gambaran sulitnya mengembangkan sarana dan infrastruktur penunjang pariwisata Talaud masih ditambah dengan sulitnya memperkuat sektor pertanian dan perikanan. Meski sebagian besar lapangan usaha masih didominasi pertanian, generasi muda Talaud cenderung beralih ke sektor publik menjadi pegawai negeri, polisi, atau tentara. Tahun 2006 tercatat ada 533 sarjana Talaud yang mencari kerja, namun tak sampai seperempatnya yang memperoleh pekerjaan.Meski sudah mulai ada lembaga pendidikan tinggi seperti Community College dan Universitas Terbuka, masih lebih banyak anak muda Talaud melanjutkan kuliah ke Manado atau kota lain. Setelah mencapai gelar sarjana, kabarnya hanya sebagian kecil yang mau kembali mencari kerja di Talaud. Itu pun lebih banyak mengincar sektor-sektor jasa. Di sisi lain, ada keengganan tenaga-tenaga dari orang di luar Talaud ditempatkan di daerah terpencil ini. Guru atau petugas kesehatan yang bukan orang lokal rata-rata tak sampai setahun bertahan, baik karena alasan keluarga maupun alasan ekonomi. Mungkin, pada akhirnya harus segera diantisipasi perubahan minat orang muda Talaud bekerja di daerahnya. Jangan sampai ribuan pencari kerja Talaud saat ini termangu-mangu menunggu lowongan, sementara lapangan kerja sektor pertanian dan perikanan justru kekurangan tenaga. Jangan sampai anak muda bumi Porodisa menjejak tanah yang terbelit ketertinggalan, menyia-nyiakan mimpi di sebuah paradise laut biru.

SEKILAS TENTANG KABUPATEN KEPULAUAN TALAUD

      Kabupaten Kepulauan Talaud sebagai daerah otonom yang dimekarkan dari kabupaten Sangihe -Talaud berdasarkan Undang-Undang No. 8 ...